Rabu, 02 November 2011

anatomy fisiologi urynaria


BAB I
PENDAHULUAN

1.1            Latar Belakang

Dewasa ini masalah perkemihan sudah banyak dialami oleh manusia. Selain dari faktor makanan ada juga dari factor biologisnya. Kami membuat makalah ini agar bias dibaca oleh masyarakat untuk bias memberikan pengetahuan mengenai system perkemihan pada manusia baik itu pria ataupun wanita

1.2            Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas timbul permasalahan sebagai berikut:
1.      Bagaimana Definisi atau pengertian dari Sistem Perkemihan ?
2.      Bagaimana Susunan Sistem Perkemihan?
3.      Bagaimana Urin itu?

1.3            Tujuan

1.      Untuk mengetahui Definisi atau pengertian dari Sistem Perkemihan.
2.      Untuk mengetahui Susunan Sistem Perkemihan.
3.      Untuk mengetahui urin










BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Sistem Urinari
Sistem perkemihan atau sistem urinaria, adalah suatu sistem dimana terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih di pergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih).
Sistem perkemihan memiliki fungsi:
1.      Keseimbangan transportasi air dan zat terlarut.
2.      Ekskresi zat buangan.
3.      Menyimpan nutrien.
4.      Mengatur keseimbangan asam dan basa.
5.      Mensekresi hormone yang mengatur tekanan darah, erythropoietin dan metabolism kalsium.
6.      Membentuk urin.

2.2   Susunan Sistem Urinari
Sistem Perkemihan atau Urinari, terdiri dari :
1.      Dua ginjal ( ren ) yang menghasilkan urin,
2.      Dua ureter yang menyalurkan urin dari ginjal ke vesika urinaria ( kandung kemih ),
3.      Satu Vesika Urinaria ( VU ) yaitu yang bekerja sebagai penampung urin,
4.      Satu uretra, yang mengeluarkan urin dari kandung kemih ( vesika urinaria)

Anatomi dan Fisiologi Sistem Urinari :
1.      Ginjal
A.    Anatomi
Ginjal terletak pada dinding posterior abdomen, terutama di daerah lumbal, di sebelah kanan dan kiri tulang belakang, dibungkus lapisan lemak yang tebal , di belakang peritoneum dank arena itu diluar rongga peritoneum. Kedudukan ginjal dapat diperkirakan dari belakang, mulai dari ketinggian vertebra torakalis terakhir sampai vertebra lumbalis ketiga. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dari kiri, karena hati menduduki banyak ruang di sebelah kanan.
Setiap ginjal panjangnya 11,25 cm, lebar 5-7 cm dan tebal 2,5 cm . Berat ginjal pria dewasa 150-170 gram dan wanita 115-155 gram . Bentuk ginjal seperti biji kacang dan sisi dalamnya atau hilum menghadap ketulang punggung. Sisi luarnya cembung. Pembuluh – pembuluh ginjal semuanya masuk dan keluar pada hilum. Diatas setiap ginjal menjulang sebuah kelenjar suprarenal. Ginjl kanan lebih pendek dan lebih tebal daripada yang kiri.

Satuan struktural dan fungsional ginjal yang terkecil disebut nefron. Tiap – tiap nefron terdiri atas komponen vaskuler dan tubuler. Komponen vaskuler terdiri atas pembuluh – pembuluh darah yaitu glomerolus dan kapiler peritubuler yang mengitari tubuli. Dalam komponen tubuler terdapat kapsul Bowman, serta tubulus – tubulus, yaitu tubulus kontortus proksimal, tubulus kontortus distal, tubulus pengumpul dan lengkung Henle yang terdapat pada medula.

Kapsula Bowman terdiri atas lapisan parietal (luar) berbentuk gepeng dan lapis viseral (langsung membungkus kapiler golmerlus) yang bentuknya besar dengan banyak juluran mirip jari disebut podosit (sel berkaki) atau pedikel yang memeluk kapiler secara teratur sehingga celah – celah antara pedikel itu sangat teratur.
Kapsula bowman bersama glomerolus disebut korpuskel renal, bagian tubulus yang keluar dari korpuskel renal disebut dengan tubulus kontortus proksimal karena jalannya yang berbelok – belok, kemudian menjadi saluran yang lurus yang semula tebal kemudian menjadi tipis disebut ansa Henle atau loop of Henle, karena membuat lengkungan tajam berbalik kembali ke korpuskel renal asal, kemudian berlanjut sebagai tubulus kontortus distal.
Lapisan-lapisan pembungkus ginjal :
1.      Bagian dalam : Capsula Renalis yang berlanjut dengan lapisan permukaan ureter.
2.      Bagian tengah : Capsula Adiposa yang merupakan jaringan lemak untuk melindungi ginjal dari trauma.
3.      Bagian luar : Fascia Renalis (jaringan ikat) yang membungkus ginjal dan menghubungkannya dengan dinding abdomen posterior. Jaringan flexibel memungkinkan ginjal bergerak dengan lembut saat diafragma bergerak waktu bernafas, mencegah penyebaran infeksi dari ginjal ke yang lain.
Bagian – Bagian Ginjal
Bila sebuh ginjal kita iris memanjang, maka aka tampak bahwa ginjal terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian kulit (korteks renalis), sumsum ginjal (medulla renalis), dan bagian rongga ginjal (renal pelvis).

1. Kulit Ginjal (Korteks Renalis)
Pada kulit ginjal terdapat bagian yang bertugas melaksanakan penyaringan darah yang disebut nefron. Pada tempat penyaringan darah ini banyak mengandung kapiler – kapiler darah yang tersusun bergumpal – gumpal disebut glomerolus. Tiap glomerolus dikelilingi oleh Simpai Bowman, dan gabungan antara glomerolus dengan simpai bowman disebut badan malphigi.
Penyaringan darah terjadi pada badan malphigi, yaitu diantara glomerolus dan simpai bownman. Zat – zat yang terlarut dalam darah akan masuk kedalam simpai bownman. Dari sini maka zat – zat tersebut akan menuju ke pembuluh yang merupakan lanjutan dari simpai bownman yang terdapat di dalam sumsum ginjal.

2. Sumsum Ginjal (Medulla Renalis)
Sumsum ginjal terdiri beberapa badan berbentuk kerucut yang disebut piramid renal. Dengan dasarnya menghadap korteks dan puncaknya disebut apeks atau papila renis, mengarah ke bagian dalam ginjal. Satu piramid dengan jaringan korteks di dalamnya disebut lobus ginjal. Piramid antara 8 hingga 18 buah tampak bergaris – garis karena terdiri atas berkas saluran paralel (tubuli dan duktus koligentes). Diantara pyramid terdapat jaringan korteks yang disebut dengan kolumna renal. Pada bagian ini berkumpul ribuan pembuluh halus yang merupakan lanjutan dari simpai bownman. Di dalam pembuluh halus ini terangkut urine yang merupakan hasil penyaringan darah dalam badan malphigi, setelah mengalami berbagai proses.

3. Rongga Ginjal (Renal Pelvis)
Pelvis Renalis adalah ujung ureter yang berpangkal di ginjal, berbentuk corong lebar. Sabelum berbatasan dengan jaringan ginjal, pelvis renalis bercabang dua atau tiga disebut kaliks mayor, yang masing – masing bercabang membentuk beberapa kaliks minor yang langsung menutupi papila renis dari piramid. Kliks minor ini menampung urine yang terus kleuar dari papila. Dari Kaliks minor, urine masuk ke kaliks mayor, ke pelvis renis ke ureter, hingga di tampung dalam kandung kemih (vesikula urinaria).


B.     Fisiologi
Fungsi Ginjal:
1.      Mengekskresikan zat – zat sisa metabolisme yang mengandung nitrogen ,misalnya ammonia
2.      Mengekskresikan zat – zat yang jumlahnya berlebihan (misalnya gula dan vitamin) dan berbahaya (misalnya obat – obatan, bakteri dan zat warna).
3.      Mengatur keseimbangan air dan garam dengan cara osmoregulasi.
4.      Mengatur tekanan darah dalam arteri dengan mengeluarkan kelebihan asam atau basa.
C.    Tes Fungsi Ginjal Terdiri Dari :
1.      Tes untuk protein albumin
Bila kerusakan pada glomerolus atau tubulus, maka protein dapat bocor dan masuk ke dalam urin.
2.      Mengukur konsentrasi urenum darah
Bila ginjal tidak cukup mengeluarkan urenum maka urenum darah naik di atas kadar normal (20 – 40) mg%.
3.      Tes konsentrasi
Dilarang makan atau minum selama 12 jam untuk melihat sampai seberapa tinggi berat jenisnya naik.
D.    Peredaran Darah dan Persyarafan Ginjal
Peredaran Darah
Ginjal mendapat darah dari aorta abdominalis yang mempunyai percabangan arteria renalis, yang berpasangan kiri dan kanan dan bercabang menjadi arteria interlobaris kemudian menjadi arteri akuata, arteria interlobularis yang berada di tepi ginjal bercabang menjadi kapiler membentuk gumpalan yang disebut dengan glomerolus dan dikelilingi oleh alat yang disebut dengan simpai bowman, didalamnya terjadi penyadangan pertama dan kapiler darah yang meninggalkan simpai bowman kemudian menjadi vena renalis masuk ke vena kava inferior.

Persarafan Ginjal
Ginjal mendapat persyarafan dari fleksus renalis (vasomotor) saraf ini berfungsi untuk mengatur jumlah darah yang masuk ke dalam ginjal, saraf ini berjalan bersamaan dengan pembuluh darah yang masuk ke ginjal. Anak ginjal (kelenjar suprarenal) terdapat di atas ginjal yang merupakan sebuah kelenjar buntu yang menghasilkan 2 (dua) macam hormon yaitu hormon adrenalin dan hormon kortison
NEFRON :
Nefron merupakan unit fungsional pada ginjal. Masing-masing ginjal memiliki sekitar 1 juta nefron, nefron terdiri lima komponen:
1. Kapsula bowman dan glomerulus merupakan tempat terjadinya filtrasi.
2.   Tubulus proksimal: tempat reabsorpsi dan beberapa sekresi.
3.   Lengkung henle: Tempat pengenceran dan pemekatan urin terjadi.
4.   Tubulus distal: Reabsorpsi dan lebih banyak sekresi.
5.   Duktus kolektifus: Pemekatan urin dan menyalurkan urin ke renal pelvis.
Secara garis besar dikatakan bahwa nefron terdiri atas dua komponen yaitu komponen tubular yang terdiri dari glomerulus sampai dengan tubulus exretori dan komponen vascular yang terdiri dari kapiler glomerulus & kapiler.
E.     Tahapan – tahapan Pembentukan Urin
a.      Proses filtrasi
Terjadi di glomerolus, proses ini terjadi karena permukaan aferent lebih besar dari permukaan aferen maka terjadi penyerapan darah, sedangkan sebagian yang tersaring adalah bagian cairan darah kecuali protein, cairan yang tersaring ditampung oleh simpai bowman yang terdiri dari glukosa, air, sodium, klorida, sulfat, bikarbonat dll, diteruskan ke seluruh ginjal.

b.      Proses reabsorpsi
Terjadi penyerapan kembali sebagian besar dari glukosa, sodium, klorida, fosfat dan beberapa ion karbonat. Prosesnya terjadi secara pasif yang dikenal dengan obligator reabsorpsi terjadi pada tubulus atas. Sedangkan pada tubulus ginjal bagian bawah terjadi kembali penyerapan dan sodium dan ion karbonat, bila diperlukan akan diserap kembali kedalam tubulus bagian bawah, penyerapannya terjadi secara aktif dikenal dengan reabsorpsi fakultatif dan sisanya dialirkan pada pupila renalis.
c.       Augmentasi (Pengumpulan)
Proses ini terjadi dari sebagian tubulus kontortus distal sampai tubulus pengumpul. Pada tubulus pengumpul masih terjadi penyerapan ion Na+, Cl-, dan urea sehingga terbentuklah urine sesungguhnya. Dari tubulus pengumpul, urin yang dibawa ke pelvis renalis lalu di bawa ke ureter. Dari ureter, urin dialirkan menuju vesika urinaria (kandung kemih) yang merupakan tempat penyimpanan urin sementara. Ketika kandung kemih sudah penuh, urin dikeluarkan dari tubuh melalui uretra.
Proses pembentukkan urin :
Proses pembentukkan urin dimulai ketika darah mengalir lewat glomerulus yang merupakan struktur awal nefron tersusun dari jonjot – jonjot kapiler yang mendapat darah lewat vasa aferen dan mengalirkan darah balik lewat vasa eferen. Tekanan darah menentukan beberapa tekanan dan kecepatan aliran darah yang melewati glomerulus. Ketika darah berjalan melewati struktur ini, proses filtrasi terjadi. Air dan molekul – molekul yang kecil akan dibiarkan lewat, sementara molekul – molekul yang besar tetap tertahan dalam aliran darah. Cairan disaring lewat dinding jonjot – jonjot kapiler glomerulus dan memasukki tubulus. Cairan ini dikenal sebagai “ Filtrat “.
  Dalam kondisi yang normal, kurang lebih 20% dari plasma yang melewati glomerulus akan disaring ke dalam nefron dengan jumlah yang mencapai sekitar 180 liter filtrat per hari. Filtrat tersebut yang sangat serupa dengan plasma darah tanpa molekul yang besar ( protein, sel darah merah, sel darah putih dan trombosit ) pada hakekatnya terdiri atas air, elektrolit dan molekul kecil lainnya. Dalam tubulus, sebagian substansi ini secara efektif diabsorbsi ulang ke dalam darah. Substansi lainnya disekresikan dari darah ke dalam filtrat ketika filtrat tersebut mengalir di sepanjang tubulus. Filtrat akan dipekatkan dalam tubulus distal serta duktus pengumpul dan kemudian menjadi urin yang akan mencapai pelvis ginjal. Sebagian substansi, seperti glukosa , normalnya akan diabsorbsi kembali seluruhnya dalam tubulus dan tidak akan terlihat dalam urin.
 
Proses reabsorbsi serta sekresi dalam tubulus sering mencakup transportasi aktif dan memerlukan penggunaan energy. Berbagai substansi yang secara normal disaring oleh glomerulus, direabsorbsi oleh tubulus dan diekskresikan ke dalam urin mencakup natrium, klorida, bikarbonat, kalium, glukosa, ureum, kreatinin serta asam urat.
Tabel Filtrasi, reabsorbsi dan ekskresi bahan tertentu dari Plasma yang normal

Disaring 24 jam
Diarbsorbsi 24 jam
Diekskresikan 24 jam
Natrium
Klorida
Bikarbonat
Kalium
Glukosa
Ureum
Kreatinin
Asam Urat
540,0 g
630,0 g
300,0 g
28,0 g
140,0 g
53,0 g
1,4 g
8,5 g
537,0 g
625,0 g
300,0 g
24,0 g
140,0 g
28,0 g
0,0 g
7,7 g
3,3 g
5,3 g
0,3 g
3,9 g
0,0 g
25,0 g
1,4 g
0,8 g
  • Semua ini merupakan nilai normal yang umum. Ditentukan variasi yang luas yang bergantung pada diet.
 
F.     Mikturisi
Peristiwa penggabungan urin yang mengalir melalui ureter ke dalam kandung kemih., keinginan untuk buang air kecil disebabkan penambahan tekanan di dalam kandung kemih dimana saebelumnmya telah ada 170 – 23 ml urine. Miktruisi merupakan gerak reflek yang dapat dikendalikan dan dapat ditahan oleh pusat – pusat persyarafan yang lebih tinggi dari manusia, gerakannya oleh kontraksi otot abdominal yang menekan kandung kemih membantu mengosongkannya.
G.    Ciri – ciri Urin Normal
Rata – rata dalam satu hari 1 – 2 liter, tapi berbeda – beda sesuai dengan jumlah cairan yang masuk. Warnanya bening oranye pucat tanpa endapan, baunya tajam, reaksinya sedikit asam terhadap lakmus dengan pH rata – rata 6.


6.      Ureter
A.    Anatomi Ureter
Terdiri dari 2 saluran pipa masing – masing bersambung dari ginjal ke kandung kemih (vesika urinaria) panjangnya ± 25 – 30 cm dengan penampang ± 0,5 cm. Ureter sebagian terletak dalam rongga abdomen dan sebagian terletak dalam rongga pelvis.
f27-8_ureters_c

Lapisan dinding ureter terdiri dari :
a.       Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa)
b.      Lapisan tengah otot polos
c.       Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa.
B.     Fisiologi
Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan – gerakan peristaltik tiap 5 menit sekali yang akan mendorong air kemih masuk ke dalam kandung kemih (vesika urinaria).
Gerakan peristaltik mendorong urin melalui ureter yang dieskresikan oleh ginjal dan disemprotkan dalam bentuk pancaran, melalui osteum uretralis masuk ke dalam kandung kemih.
Ureter berjalan hampir vertikal ke bawah sepanjang fasia muskulus psoas dan dilapisi oleh pedtodinium. Penyempitan ureter terjadi pada tempat ureter terjadi pada tempat ureter meninggalkan pelvis renalis, pembuluh darah, saraf dan pembuluh sekitarnya mempunyai saraf sensorik.
7.      Vesika Urinaria
A.    Anatomi dan Fisiologi
f27-9a_urinary_bladder_c
Vesika urinaria bekerja sebagai penampung urin. Organ ini berbentuk seperti buah pir (kendi). letaknya di belakang simfisis pubis di dalam rongga panggul. Vesika urinaria dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet. Bentuk kandung kemih seperti kerucut yang dikelilingi oleh otot yang kuat, berhubungan ligamentum vesika umbikalis medius.


Dinding kandung kemih terdiri dari:
1. Lapisan sebelah luar (peritoneum).
2. Tunika muskularis (lapisan berotot).
3. Tunika submukosa.
4. Lapisan mukosa (lapisan bagian dalam).
Lapisan otot disebut dengan otot detrusor. Otot longitudinal pada bagian dalam dan luar dan lapisan sirkular pada bagian tengah. Ukuran kandung kencing berbeda-beda. Pada usia dewasa kandung kencing mampu menampung sekitar 300-500 ml urin. Pada keadaan tertentu kandung kencing dapat menampung dua kali lipat lebih jumlah keadaan normal.
Bagian vesika urinaria terdiri dari :
1.   Fundus, yaitu bagian yang mengahadap kearah belakang dan bawah, bagian ini terpisah dari rektum oleh spatium rectosivikale yang terisi oleh jaringan ikat duktus deferent, vesika seminalis dan prostat.
2.      Korpus, yaitu bagian antara verteks dan fundus.
3.   Verteks, bagian yang maju kearah muka dan berhubungan dengan ligamentum vesika umbilikalis.
B.     Proses Miksi (Rangsangan Berkemih).
Miksi merupakan proses pengosongan kandung kemih bila kandung kemih terisi. Dua langkah utama yaitu: jika kandung kemih terisi secara progresif sampai tegangan dindingnya meningkat diatas nilai ambang akan mencetuskan refleks miksi dan refleks miksi akan berusaha mengosongkan kandung kemih, menimbulkan kesadaran akan keinginan berkemih. Meskipun refleks miksi adalah autonom medula spinalis, refleks ini bisa juga dihambat atau ditimbulkan oleh pusat korteks serebri atau batang otak.
C.    Persyarafan Kandung kemih:
Persyarafan utama kandung kemih adalah nervus pelvikus yang berhubungan dengan medulla spinalis melalui pleksus sakralis terutama berhubungan dengan medulla spinalis segmen S2 dan S3. Serat sensorik mendeteksi derajat regangan pada dinding kandung kemih. Saraf mototrik yang menjalar dalam nervus pelvikus adalah serat parasimpatis.
Selain nervus pelvikus terdapat dua tipe persyarafan lain yang penting untuk kandung kemih yaitu serat otot lurik yang berjalan melalui nervus pudendal menuju sfingter eksternus. Ini adalah serat saraf somatik yang mempersyarafi dan mengontrol otot lurik pada sfingter. Kandung kemih juga menerima syaraf simpatis dari rangkaian simpatis melalui nervus hipogastrikus terutama berhubungan dengan segmen L2 medulla spinalis. Serat simpatis ini merangsang pembuluh darah dan sedikit mempengaruhi kontraksi kandung kemih. Beberapa serat syaraf sensorik juga berjalan melalui syaraf simpatis dan penting dalam menimbulkan sensasi rasa penuh dan rasa nyeri
D.    Pengeluaran urin diatur oleh refleks mikturisi dengan penjelasan sebagai berikut:
1.      Sejumlah urin (sekitar 200-300 ml) akan menyebabkan regangan pada kandung kencing.
2.      Regangan akan merangsang reseptor regangan, sinyal akan diteruskan melalui saraf afferen ke nervus pelvikus di medulla spinalis.
3.      Di medulla spinalis sinyal akan diteruskan ke nervus motorik parasimpatis dan melalui interneuron di bawa ke hipotalamus yang akan dihantarkan ke otak sehingga manusia mempersepsikan keinginan untuk BAK.
4.      Sinyal dari nervus motorik parasimpatis akan dibawa oleh saraf efferen ke otot detrusor dan menstimulasi otot tersebut untuk berkontraksi.
5.      Kontraksi otot detrusor menyebabkan semakin meningkatnya tekanan di kandung kemih, tetapi urin tidak keluar sampai spingter internal dan eksternal relaksasi (Relaksasi spingter uretra internal dan eksternal ini di bawah kontrol volunter).
6.      Ketika volume urin di kandung kemih meningkat sampai dengan 500 ml akan meningkatkan rangsangan pada reseptor regangan sehingga sensasi semakin kuat.
7.      Refleks yang dihasilkan cukup kuat untuk membuka spingter uretra internal terbuka sehingga spingter uretra eksternalpun terangsang relaksasi dan terjadilah pengeluaran urin.
8.      Diakhir proses mikisi kurnag dari 10 ml urin akan tetap berada di kandung kemih.
8.      Uretra
Anatomi dan Fisiologi
Merupakan saluran sempit yang berpangkal pada vesika urinaria yang berfungsi menyalurkan air kemih ke luar.
Uretra pada laki – laki terdiri dari :
Pada laki- laki uretra bewrjalan berkelok – kelok melalui tengah – tengah prostat kemudian menembus lapisan fibrosa yang menembus tulang pubis kebagian penis panjangnya ± 20 cm. Pada pria, panjang uretra sekitar 20 cm dan berakhir pada akhir penis.
Anatomi manusia (pria)
Uretra pada pria dibagi menjadi 4 bagian, dinamakan sesuai dengan letaknya:
1.      pars pra-prostatica, terletak sebelum kelenjar prostat.
2.      pars prostatica, terletak di prostat, Terdapat pembukaan kecil, dimana terletak muara vas deferens.
3.      pars membranosa, sekitar 1,5 cm dan di lateral terdapat kelenjar bulbouretralis.
4.      pars spongiosa/cavernosa, sekitar 15 cm dan melintas di corpus spongiosum penis.
Lapisan uretra laki – laki terdiri dari lapisan mukosa (lapisan paling dalam), dan lapisan submukosa.
Uretra pada Wanita :
Urethra pada wanita panjangnya kira-kira 3,7-6,2 cm (Taylor), 3-5 cm (Lewis). Sphincter urethra terletak di sebelah atas vagina (antara clitoris dan vagina) dan urethra disini hanya sebagai saluran ekskresi. Pria memiliki uretra yang lebih panjang dari wanita. Artinya, wanita lebih berisiko terkena infeksi kantung kemih atau sistitis dan infeksi saluran kemih.
Anatomi wanita.
Lapisan uretra pada wanita terdiri dari :
1.      Tunika muskularis (sebelah luar),
2.      Lapisan spongeosa merupakan pleksus dari vena – vena, dan
3.      Lapisan mukosa (lapisan sebelah dalam).
Dinding urethra terdiri dari 3 lapisan:
1.      Lapisan otot polos, merupakan kelanjutan otot polos dari Vesika urinaria. Mengandung jaringan elastis dan otot polos. Sphincter urethra menjaga agar urethra tetap tertutup.
2.      Lapisan submukosa, lapisan longgar mengandung pembuluh darah dan saraf.
3.      Lapisan mukosa.



2.3Hasil dari proses perkemihan adalah URIN atau air kemih, berikut penjelasan:
Sifat fisis air kemih, terdiri dari:
1.      Jumlah ekskresi dalam 24 jam ± 1.500 cc tergantung dari pemasukan (intake) cairan dan faktor lainnya.
2.      Warna, bening kuning muda dan bila dibiarkan akan menjadi keruh.
3.      Warna, kuning tergantung dari kepekatan, diet obat-obatan dan sebagainya.
4.      Bau, bau khas air kemih bila dibiarkan lama akan berbau amoniak.
5.      Berat jenis 1010-1025.
6.      Reaksi asam, bila lama-lama menjadi alkalis, juga tergantung dari pada diet (sayur menyebabkan reaksi alkalis dan protein memberi reaksi asam).
Komposisi air kemih, terdiri dari:
1.      Air kemih terdiri dari kira-kira 95% air.
2.      Zat-zat sisa nitrogen dari hasil metabolisme protein, asam urea, amoniak dan kreatinin.
3.      Elektrolit, natrium, kalsium, NH3, bikarbonat, fospat dan sulfat.
4.      Pagmen (bilirubin dan urobilin).
5.      Toksin.
6.      Hormon.
Mikturisi
Mikturisi ialah proses pengosongan kandung kemih setelah terisi dengan urin. Mikturisi melibatkan 2 tahap utama, yaitu:
1.      Kandung kemih terisi secara progresif  hingga tegangan pada dindingnya meningkat melampaui nilai ambang batas (Hal ini terjadi bila telah tertimbun 170-230 ml urin), keadaan ini akan mencetuskan tahap ke 2.
2.      Adanya refleks saraf (disebut refleks mikturisi) yang akan mengosongkan kandung kemih.
Pusat saraf miksi berada pada otak dan spinal cord (tulang belakang) Sebagian besar pengosongan di luar kendali tetapi pengontrolan dapat di pelajari “latih”. Sistem saraf simpatis : impuls menghambat Vesika Urinaria dan gerak spinchter interna, sehingga otot detrusor relax dan spinchter interna konstriksi. Sistem saraf parasimpatis: impuls menyebabkan otot detrusor berkontriksi, sebaliknya spinchter relaksasi terjadi MIKTURISI (normal: tidak nyeri)
Ciri-Ciri Urin Normal:
1.      Rata-rata dalam satu hari 1-2 liter, tapi berbeda-beda sesuai dengan jumlah cairan yang masuk.
2.      Warnanya bening oranye pucat tanpa ada endapan, tetapi adakalanya jonjot lender tipis tampak terapung di dalamnya.
3.      Baunya tajam.
4.      Reaksinya sedikit asam terhadap lakmus dengan pH rata-rata 6.
5.      Berat jenisnya berkisar 1010 – 1025.













BAB III
PENUTUP

3.1   Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat kami simpulkan, bahwa :
Sistem perkemihan atau sistem urinaria, adalah suatu sistem dimana terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih di pergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih).
Sistem perkemihan memiliki fungsi:
1.      Keseimbangan transportasi air dan zat terlarut.
2.      Ekskresi zat buangan.
3.      Menyimpan nutrien.
4.      Mengatur keseimbangan asam dan basa.
5.   Mensekresi hormon yang mengatur tekanan darah, erythropoietin dan metabolism kalsium.
6.      Membentuk urin.

3.2   Saran – saran
Mulai dari sekarang jagalah ginjal anda dari minum – minuman keras agar ginjal anda tetap berfungsi secara normal. Jika tidak ginjal anda rusak dan harus di transplantasi dari ginjal baru. Atau cuci darah selamanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar